APBN 2025: Defisit Mengecil, Tapi Karena Belanja Mandek

Proyeksi defisit APBN 2025 kini diperkirakan berada pada 2,3%–2,6% dari PDB, sedikit lebih rendah dari outlook pemerintah 2,78%.
Namun penyempitan ini lebih disebabkan oleh realisasi belanja yang lambat, bukan karena penerimaan negara yang semakin kuat.

Penerimaan Negara Masih Belum Pulih
Hingga Juli, penerimaan baru mencapai Rp1.863 triliun (65% target) — turun 7,2% YoY.
Penurunan ini terutama berasal dari:
- Harga komoditas yang lebih rendah,
- Pertumbuhan ekonomi yang lebih lunak dari asumsi APBN,
- Penerimaan wajib pajak besar yang jauh dari target (baru Rp8T dari Rp20T).

Kondisi ini membuat ruang fiskal bergantung pada kehati-hatian belanja, bukan ekspansi.

Realisasi Belanja Tertahan di Banyak Level
Beberapa indikator belanja menunjukkan perlambatan serempak:
- TKDD baru 71,23% hingga pertengahan November,
- Sejumlah kementerian mengembalikan Rp3,5T anggaran tidak terserap,
- Banyak dana transfer daerah masih belum digunakan dalam APBD.

Lambatnya eksekusi belanja menahan efek multiplier fiskal, terutama pada semester kedua, ketika historisnya peran pemerintah cukup besar dalam menopang aktivitas.

Proyeksi Defisit: Lebih Kecil, Tapi Menyimpan Catatan
Ekonom memperkirakan defisit akhir tahun berada di Rp550T–Rp620T atau 2,3%–2,6% dari PDB.
Di permukaan, angka ini terlihat positif — postur fiskal terjaga dan risiko pelebaran defisit relatif kecil.

Namun konteksnya penting:
defisit mengecil karena belanja yang tidak berjalan optimal, bukan karena posisi penerimaan yang kuat.

Implikasi Makro ke Depan
Kombinasi penerimaan yang tertekan dan belanja yang tertunda berarti dorongan fiskal terhadap perekonomian kemungkinan lebih kecil dari biasanya.
Hal ini dapat:
- Menahan momentum permintaan domestik,
- Membuat beberapa proyek publik berjalan lebih lambat,
- Dan memberi tekanan pada sektor-sektor yang bergantung pada pengadaan pemerintah.

Menuju 2026, efektivitas eksekusi anggaran akan menjadi faktor kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan, terutama ketika konsumsi dan investasi swasta bergerak lebih hati-hati.