Builder.ai adalah startup teknologi asal London yang pernah jadi bintang di mata investor. Dengan janji membuat aplikasi semudah memesan pizza lewat asisten AI bernama Natasha, perusahaan ini sukses menarik perhatian banyak pihak. Mereka mengklaim sebagai pelopor dalam pengembangan aplikasi tanpa kode (no-code) yang sepenuhnya dijalankan oleh teknologi kecerdasan buatan.
Klaim itu terdengar sangat meyakinkan, apalagi dengan dukungan pendanaan lebih dari US$445 juta dari investor besar seperti Microsoft, SoftBank, dan Qatar Investment Authority. Valuasi perusahaan bahkan sempat mencapai US$1,5 miliar — cukup untuk masuk kategori unicorn.
Namun, pada Mei 2025, Builder.ai resmi menyatakan bangkrut.
Di balik teknologi yang dijanjikan, ternyata hampir seluruh proses pengembangan aplikasi dilakukan secara manual oleh sekitar 700 engineer di India. Bukan AI, bukan otomatisasi — melainkan tenaga manusia biasa yang dibungkus dengan branding canggih. Masalah makin rumit ketika audit keuangan menunjukkan bahwa perusahaan melebih-lebihkan pendapatannya. Dari proyeksi US$220 juta, angka riilnya hanya sekitar US$50 juta.
Kreditur utama, Viola Credit, langsung menyita dana sekitar US$37 juta, dan Builder.ai pun kehilangan kemampuan bayar. Proses kebangkrutan dimulai, dan banyak pihak — mulai dari karyawan, klien, hingga investor besar — harus menerima kenyataan pahit ini.
Lalu, Apa Pelajaran yang Bisa Kita Petik Sebagai Investor?
Kisah ini bukan cuma soal satu startup gagal. Ini juga cerminan dari risiko yang bisa terjadi dalam dunia investasi, terutama saat kita mulai tertarik pada sektor yang sedang naik daun seperti teknologi dan AI.
Berikut beberapa hal penting yang bisa jadi pengingat untuk kita semua:
1. Valuasi besar bukan jaminan kualitas
Angka valuasi memang bisa jadi indikator potensi, tapi bukan ukuran pasti bahwa bisnis tersebut sehat. Dalam kasus Builder.ai, valuasi mencapai miliaran dolar tapi ternyata didasarkan pada janji teknologi yang tidak sesuai realita dan laporan keuangan yang tidak akurat.
Sebagai investor, penting untuk menilai kualitas fundamental: bagaimana pendapatannya, bagaimana arus kasnya, dan apakah proyeksi bisnisnya masuk akal?
2. Nama besar tidak membuat sebuah investasi otomatis aman
Microsoft dan Qatar Investment Authority adalah investor besar yang pasti punya tim riset. Tapi tetap saja mereka bisa salah menilai. Ini menunjukkan bahwa berinvestasi, sekecil apa pun, tetap perlu riset dan pemahaman yang matang. Jangan sekadar ikut arus.
3. Waspadai istilah yang sedang hype
AI, blockchain, metaverse, dan sejenisnya sering dijadikan kata kunci dalam presentasi atau materi promosi. Tapi sebagai investor, kita perlu melihat lebih dalam: apakah teknologi itu memang digunakan dengan efektif, atau hanya jadi daya tarik pemasaran?
4. Kenali tanda-tanda peringatan sejak dini
Builder.ai memproyeksikan pendapatan tinggi, tapi tidak punya bukti yang mendukung. Pendapatan aktualnya hanya seperempat dari angka yang dijanjikan. Ketika kita melihat proyeksi yang terlalu muluk, proses bisnis yang tidak transparan, atau laporan keuangan yang sulit dipahami — itu bisa jadi red flag.
5. Diversifikasi tetap penting, bahkan di sektor yang sedang naik daun
Teknologi memang menjanjikan, tapi tetap punya risiko tinggi. Jika portofolio kita terlalu berat ke satu sektor atau satu perusahaan, dampaknya bisa besar saat ada masalah. Diversifikasi tetap jadi prinsip penting untuk mengelola risiko.
All in all…
Kita hidup di era di mana teknologi berkembang sangat cepat, dan peluang investasi pun semakin beragam. Tapi seiring dengan itu, potensi jebakan dan ilusi juga semakin banyak.
Kasus Builder.ai adalah pengingat bahwa dalam dunia investasi, kita tidak bisa hanya mengandalkan optimisme dan buzzword. Diperlukan pemahaman, ketelitian, dan sikap kritis untuk bisa bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang.
“Berinvestasi bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling paham dengan apa yang ia beli.”