Pernyataan mengejutkan datang dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang menyerukan evakuasi kota Teheran. Isu ini memicu kekhawatiran baru akan konflik yang lebih luas di Timur Tengah, padahal sebelumnya sempat muncul harapan bahwa ketegangan Israel–Iran akan segera mereda.
Padahal, Iran sendiri sudah memberikan sinyal ingin meredakan ketegangan dan siap kembali ke meja perundingan nuklir dengan AS—asal Washington tidak ikut campur dalam aksi militer Israel. Namun, pasar sudah terlanjur goyah. Harga minyak pun kembali melonjak, ditutup di level US$73,11 per barel.
IHSG Merosot, Asing Masuk ke Saham Blue-chip
Sementara itu di dalam negeri, IHSG melanjutkan pelemahannya hingga empat hari berturut-turut dan ditutup di level 7.117. Investor asing mencatat net sell sebesar US$8 juta, terutama keluar dari saham-saham komoditas.
Menariknya, di tengah tekanan tersebut, investor asing justru melakukan akumulasi pada saham-saham BUMN perbankan. Rupiah pun nyaris tidak bergerak banyak, bertahan di kisaran Rp16.265 per dolar AS.
Transisi Energi: Antara Ambisi dan Tantangan
Di sisi energi, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 mencerminkan arah baru: 76% dari total tambahan kapasitas 69,5 GW akan berasal dari energi bersih—meningkat signifikan dari rencana sebelumnya. Fokus utamanya ada di tenaga surya, hidro, angin, panas bumi, dan sistem penyimpanan baterai (BESS). Sebanyak 73% proyek akan dikerjakan oleh swasta melalui skema Independent Power Producers (IPP).
Namun, transisi ini masih jauh dari target Just Energy Transition Partnership (JETP) yang menargetkan 145 GW energi terbarukan pada 2035. Masih adanya alokasi untuk PLTU baru (6,3 GW) dan gas (10,3 GW) juga menunjukkan tarik-ulur antara ambisi dan realitas kebijakan.
Rencana Besar: Super Grid & Ekspor Listrik Hijau
Pemerintah tetap komit buat jangka panjang. Targetnya: 74% bauran energi bersih di 2060. Untuk mencapainya, dibutuhkan infrastruktur besar kayak Super Grid Nasional yang bakal menghubungkan kebutuhan listrik antar pulau. Proyek-proyek besar kayak jalur transmisi Sumatra-Jawa dan Kalimantan-Jawa udah disiapkan dari sekarang buat 2030-an nanti.
Indonesia juga makin serius mau jadi hub energi hijau di kawasan. Pada 13 Juni 2025, pemerintah teken kerja sama dengan Singapura buat ekspor listrik hijau, proyek penangkapan karbon, sampai pengembangan kawasan industri hijau di Kepulauan Riau. Target ekspor energinya bisa sampai 3,4 GW di 2035, dengan total potensi investasi US$52,7 miliar dan penciptaan 400.000 lapangan kerja.
Jadi, Apa Dampaknya ke Reksa Dana?
Dengan situasi geopolitik yang makin memanas dan harga minyak naik, reksa dana saham berisiko terdampak dalam jangka pendek—terutama yang banyak eksposur ke sektor komoditas. Tapi, sisi positifnya, aksi beli asing ke saham-saham big cap seperti bank BUMN dan TLKM bisa jadi angin segar buat reksa dana yang punya bobot besar di saham-saham tersebut.
Di sisi lain, rencana besar soal energi hijau dan proyek ekspor listrik ke Singapura bisa jadi potensi jangka panjang. Emiten-emiten seperti ADRO dan MEDC yang terlibat langsung dalam proyek hijau ini berpeluang memberikan kontribusi positif—baik ke harga saham maupun obligasi yang mereka terbitkan. Ini tentunya bisa berdampak ke kinerja reksa dana, terutama reksa dana pendapatan tetap yang pegang obligasi korporasi dari mereka.
Kesimpulannya: Investor reksa dana sebaiknya tetap update dan aware. Di tengah gejolak global dan transisi energi yang masif, peluang dan risiko datang berbarengan. Diversifikasi sektor dan strategi aktif dari manajer investasi jadi kunci buat tetap cuan di tengah dinamika ini.