Cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sepanjang 2025, turun dari US$155,7 miliar pada Desember 2024 menjadi US$148,7 miliar pada September 2025, sebelum sedikit pulih ke US$149,9 miliar pada Oktober.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa pergerakan ini mencerminkan upaya stabilisasi Rupiah di tengah volatilitas global yang kembali meningkat.
Stabilisasi Rupiah: BI Mengandalkan Intervensi Terukur
Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa penurunan cadangan devisa terutama berasal dari rangkaian intervensi BI, antara lain:
- Intervensi di pasar NDF (offshore) dan DNDF (onshore)
- Aksi terbatas di pasar spot
Pendekatan ini dipilih untuk menghaluskan tekanan jangka pendek pada Rupiah tanpa menggunakan cadangan secara agresif.
Dengan kata lain, BI berupaya menjaga nilai tukar yang stabil dan tertata, bukan level tertentu.
Tekanan Global Mendorong Arus Keluar Modal
Sejak awal tahun, ketidakpastian global — mulai dari kuatnya dolar AS hingga gejolak di pasar obligasi global — memicu keluarnya investor asing dari berbagai instrumen domestik:
- Saham (equities)
- Surat Berharga Negara (SBN)
- Surat Rupiah BI (SRBI)
Meskipun demikian, BI mencatat adanya arus masuk selektif kembali ke SBN, seiring imbal hasil yang tetap menarik dan persepsi risiko Indonesia yang relatif stabil.
Implikasi Pasar: Menjaga Keseimbangan yang Rapuh
Penurunan cadangan devisa sepanjang 2025 menunjukkan trade-off kebijakan moneter: memastikan stabilitas rupiah tanpa menguras cadangan secara berlebihan.
Kenaikan cadangan ke US$149,9 miliar pada Oktober memberi sinyal bahwa tekanan pasar mulai mereda dan strategi intervensi BI mulai memberikan hasil.
Kondisi ini juga mencerminkan pendekatan BI yang tetap prudent — menjaga ruang manuver di tengah pasar global yang sangat sensitif terhadap kebijakan AS dan arah imbal hasil obligasi global.
Kesimpulan
Pergerakan cadangan devisa 2025 menunjukkan dinamika wajar dalam kolaborasi kebijakan stabilisasi nilai tukar.
Meski cadangan sempat tergerus, respons BI yang terukur membantu menjaga Rupiah tetap stabil di tengah arus keluar modal global.
Dengan tekanan eksternal yang mulai mereda pada akhir tahun, Indonesia memiliki peluang untuk mempertahankan stabilitas makro memasuki 2026.