IHSG akhirnya menembus level psikologis 8.000 di pertengahan Agustus 2025. Sebuah capaian yang di satu sisi menimbulkan optimisme, tapi di sisi lain justru membuka pertanyaan baru: apakah angka ini benar-benar mencerminkan kekuatan fundamental pasar?
Konglomerasi Menjadi Penopang
Reli IHSG dari titik terendah ~5.800 pada April 2025 hingga ke posisi saat ini, sebagian besar ditopang oleh saham-saham konglomerasi besar. Jika 14 saham konglomerasi dikeluarkan, gap IHSG bisa mencapai ~25% lebih rendah. Artinya, performa indeks tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi rata-rata saham di bursa.
Valuasi: Murah atau Mahal?
Jika melihat P/E (forward 1Y) IHSG, pasar tampak murah — bahkan setara dengan level pandemi 2020. Namun, ketika kita zoom in ke 25 saham terbesar, cerita berbeda muncul. P/B dan P/E dari kelompok saham ini justru terlihat premium, jauh dari kesan undervalued.
Di sinilah investor perlu berhati-hati. Angka indeks secara keseluruhan bisa menipu jika tidak dibarengi analisis mendalam terhadap komposisi dan valuasi tiap kelompok saham.
Pergeseran Struktur Investor
Aspek lain yang tak kalah menarik adalah komposisi investor. Porsi kepemilikan asing di IHSG berada di titik terendah 15 tahun terakhir, sementara investor domestik — khususnya social insurance funds — semakin dominan. Masuknya dana besar dari institusi lokal ini berfungsi sebagai “liquidity booster”, menopang likuiditas dan menjaga momentum indeks.
Meski begitu, peran investor asing tetap penting. Jika aliran dana asing kembali masuk, itu bisa menjadi katalis tambahan bagi pasar.
Apa Artinya untuk Investor?
Dengan kondisi ini, investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada angka IHSG semata. Fokus perlu diarahkan pada saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik, terutama di sektor perbankan besar yang saat ini justru underowned oleh asing.
Bagi investor reksa dana, strategi paling efektif adalah memilih produk yang secara selektif memberikan eksposur pada big caps dengan valuasi atraktif. Salah satunya adalah Syailendra MSCI ID Value Index Fund (SMSCI), yang mengacu pada MSCI Value Index.
Lebih dari 50% portofolionya berfokus ke big banks, memberikan peluang untuk menangkap potensi pemulihan harga saham seiring membaiknya kinerja keuangan.
Mau tahu lebih dalam soal peluang di balik IHSG 8.000 dan strategi produk Syailendra?
Baca laporan lengkapnya di https://www.syailendracapital.com/investment-report
Atau, kalau ingin langsung menangkap peluang di big banks melalui SMSCI, kamu bisa cek info produknya di https://www.syailendracapital.com/product/reksa-dana-index/syailendra-msci-indonesia-value-index-smsci