JCI: Jakarta Composite Index vs Jakarta Conglomerate Index

media-image

Beberapa minggu terakhir, euforia pasar modal Indonesia kembali terasa. Di tengah kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, investor lokal justru disuguhkan pemandangan menarik: IHSG berhasil menguat 11 hari berturut-turut sejak awal Juli. Apakah ini sinyal bahwa kepercayaan pasar sudah pulih sepenuhnya?

Tidak semudah itu.

Di balik rally tersebut, ada dinamika pasar yang lebih dalam, yang kalau tidak diperhatikan, bisa berakibat buruk buat investor.

IHSG memang naik, tapi nggak semua saham ikut terbang. In fact, yang mengangkat IHSG bukan saham-saham blue chip biasa, melainkan saham-saham konglomerasi.

The Real Story Behind IHSG Rally

Pada periode 7–21 Juli 2025, IHSG naik +8,3%. Namun jika ditelusuri lebih lanjut, lonjakan tersebut sangat didorong oleh lima saham konglomerasi:
DCII: +91,9%
BREN: +38,6%
BRPT: +54,2%
DSSA: +17,1%
CDIA: +539,5%

Kelima saham ini berkontribusi besar terhadap IHSG karena total kapitalisasi pasarnya setara 17% dari market cap IHSG. Di sisi lain, saham-saham besar seperti BBCA dan BMRI justru masuk dalam jajaran top laggards, dengan bobot gabungan sekitar 13% dari IHSG.

Fenomena ini menunjukkan: rotasi sektor dan tema investasi sedang terjadi. Saham-saham konglomerasi yang dulunya hanya pelengkap, kini jadi penggerak pasar.

Perubahan Wajah IHSG

AD_4nXc8StKuu5zXdnRXifym7O32sQNQFDcPSAIOePElvGThJSHFsxr1tdRBNAn9lqQLXqudbdgAaem7A4VKijTpfT50ePKTWrsJIwP3kcVRJkSQdiomJ8BnHM_Hl0CYL7G1a0jgMigS1w?key=R00I3NA98Dk4PYJG2NqmlSB_

Source: Syailendra Capital

Bahkan dari 2021 ke 2025, komposisi Top 10 saham terbesar IHSG sudah banyak berubah:
- Porsi saham konglomerasi naik dari 2,4% ke 20,8%
- Porsi saham big cap & BUMN turun dari 30,4% ke 26,3%

IHSG boleh sama, tapi isinya sudah sangat berbeda. Inilah yang disebut banyak analis sebagai pergeseran dari Jakarta Composite Index ke Jakarta Conglomerate Index.

Lalu, Bagaimana Strategi Investasi yang Tepat?

Syailendra Capital menawarkan dua pendekatan yang bisa disesuaikan dengan preferensi dan gaya investasimu:
Syailendra Alpha Equity Fund (SAFE)
Strategi aktif, fokus pada saham-saham pilihan dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Return 1Y: +10,18% (vs IHSG +0,31%)

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund (SMSCI)
Strategi pasif, mengacu pada indeks MSCI Value yang berisi saham undervalued dan pembagi dividen.
Return 1Y: -8,47% (vs iShares EIDO -13,67%)

Seperti kata pepatah, "Tiap masa ada sahamnya, tiap saham ada masanya."

Kondisi pasar akan terus berubah. Yang penting adalah bagaimana kita tetap fleksibel dan sadar bahwa melihat indeks saja tidak cukup. Investor perlu memahami isi di dalamnya dan menyesuaikan strategi.

Jadi, kamu tipe yang suka ride the trend ala SAFE?
Atau lebih suka strategi buy and hold undervalued assets seperti SMSCI?

What matters most is finding the strategy that fits you best.
Let’s invest smarter.