Kapital Asing Keluar, Tapi Sentimen Masih Terkendali

Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya arus keluar modal asing sebesar Rp940 miliar pada pekan keempat Oktober 2025.
Tekanan ini terutama disebabkan oleh penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar global menjelang akhir tahun.

Namun di balik arus keluar tersebut, dinamika pasar menunjukkan pola rotasi, bukan pelarian penuh dari aset Indonesia.

Arus Modal: Jual Obligasi, Masuk ke Saham
Rinciannya menunjukkan pergerakan yang beragam:
* Asing menjual Rp2,73 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN)
* Menjual Rp1,28 triliun di instrumen BI Rupiah Securities (SRBI)
* Namun membeli bersih Rp3,08 triliun di pasar saham

Pola ini menggambarkan selektifnya strategi investor asing dimana mereka mengurangi eksposur di obligasi jangka panjang namun tetap mencari peluang di ekuitas domestik, terutama sektor-sektor yang masih menawarkan pertumbuhan.

Kondisi Pasar dan Nilai Tukar
Pada periode yang sama, rupiah bergerak di kisaran Rp16.600 per USD, sementara yield SBN tenor 10 tahun stabil di sekitar 5,98%.
Di sisi eksternal, U.S. Dollar Index (DXY) menguat ke level 98,94, menekan mata uang di kawasan emerging markets.

Meski demikian, Credit Default Swap (CDS) Indonesia tetap rendah di 80,4 bps, menunjukkan persepsi risiko yang masih terjaga di mata investor global.
Dengan kata lain, volatilitas saat ini lebih mencerminkan penyesuaian portofolio jangka pendek, bukan perubahan pandangan terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

BI Menjaga Stabilitas di Tengah Tekanan
Menanggapi volatilitas pasar, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah dan kelancaran operasi pasar melalui koordinasi kebijakan yang erat dengan pemerintah.
Fokus utama BI tetap pada stabilitas eksternal dan ketahanan pasar keuangan domestik.

Secara kumulatif sepanjang 2025:
- Asing jual bersih Rp48,36 triliun di saham
- Jual Rp136,76 triliun di SRBI
- Namun masih beli bersih Rp8,58 triliun di SBN

Kombinasi ini menunjukkan bahwa meski arus keluar masih terjadi, kepercayaan terhadap aset obligasi pemerintah relatif bertahan.

Dalam konteks saat ini, strategi kebijakan BI yang proaktif dan fundamental makro yang kuat, termasuk inflasi terkendali dan defisit fiskal rendah, menjadi faktor penopang utama bagi stabilitas pasar.
Selama tekanan eksternal dari dolar AS dan imbal hasil obligasi AS masih tinggi, BI kemungkinan akan tetap vigilant dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan dukungan terhadap pertumbuhan.