Setiap kali kalender masuk bulan Mei, pasti muncul satu mantra klasik di dunia saham: “Sell in May and Go Away.”
Kalimat ini sudah seperti tradisi turun-temurun di kalangan investor global. Tapi pertanyaannya:
- Apakah strategi ini masih relevan di zaman sekarang?
- Dan lebih penting lagi — apakah berlaku juga di Indonesia?
Mantra ini berasal dari pepatah Inggris kuno: “Sell in May and go away, and come back on St. Leger's Day.”
Konon, para bangsawan dan pelaku pasar di London akan menjual saham mereka di awal musim panas dan “menghilang” hingga musim balap kuda berakhir pada bulan September. Artinya, selama bulan Mei hingga Oktober, aktivitas pasar cenderung lesu karena minim partisipasi. Strategi ini akhirnya jadi legenda di kalangan investor Wall Street — dan lama-lama, ikut "merembes" ke pasar negara lain, termasuk Indonesia.
Apakah Saham Memang Lesu di Mei?
Di pasar global, analisis historis menunjukkan bahwa return indeks saham cenderung lebih rendah dalam periode Mei–Oktober dibandingkan periode November–April. Beberapa investor menganggap ini sebagai peluang untuk "istirahat" dari market dan menghindari potensi koreksi. Namun... data di Indonesia berkata lain.
Dalam dua dekade terakhir, IHSG hanya mencatat penurunan di bulan Mei sekitar 30% dari waktu tersebut. Artinya, dalam 7 dari 10 tahun, pasar justru tidak turun — bahkan bisa naik signifikan!
Source: Infovesta, Syailendra Research
Kenapa Strategi Ini Bisa Menyesatkan?
Banyak yang ikut-ikutan menjual saham di bulan Mei tanpa strategi, hanya karena "katanya begitu."
Padahal… “Past performance does not guarantee future results.”
Kondisi pasar berubah, sentimen bergeser, dan dinamika ekonomi Indonesia tak bisa disamakan mentah-mentah dengan Wall Street.Contoh? Beberapa tahun terakhir justru menunjukkan peluang cuan besar justru muncul di tengah semester, bukan di awal atau akhir tahun.
Investor Cerdas Gak Cuma Ikut-Ikutan
Investasi itu bukan soal ngikutin musim. Tapi tentang:
- Memahami data dan analisis
- Menyesuaikan strategi dengan tujuan keuangan pribadi
- Tetap rasional, meski ramai-ramai orang panik
Jika kamu asal "sell in May" karena takut, dan "go away" tanpa arah… jangan kaget kalau malah kehilangan momen saat pasar naik.
Kesimpulan: Apa yang Harus Dilakukan?
Kalau kamu merasa portofolio mu sudah overweight dan butuh rebalancing — silakan jual. Kalau kamu sedang butuh likuiditas — silakan take profit. Tapi jangan ambil keputusan investasi hanya karena ikut-ikutan (FOMO)
“Sell in May if you must — but invest with brains, not fear.”
By Syailendra Capital