Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% pada rapat kebijakan terakhir, setelah menurunkannya enam kali sejak 2024.
Keputusan ini menandakan pergeseran fokus dari pelonggaran ke stabilisasi, di tengah tekanan terhadap rupiah dan lambatnya penyaluran kredit ke sektor riil.
Fokus pada Keseimbangan dan Kredibilitas
Inflasi tetap terkendali di 2,6%, masih berada dalam target BI sebesar 1,5–3,5%, namun volatilitas global dan arus keluar modal asing menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, BI memilih langkah hati-hati: menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas eksternal, sembari memastikan efek dari pemangkasan suku bunga sebelumnya benar-benar tersalurkan ke ekonomi domestik.
Dengan kata lain, BI sedang memberi waktu bagi transmisi kebijakan moneter untuk bekerja.
Mengapa Efek Pelonggaran Belum Terasa
Meski total penurunan suku bunga mencapai 150 bps sejak 2024, rata-rata suku bunga kredit baru turun sekitar 15 bps.
Perbedaan besar ini menunjukkan tantangan utama BI: memastikan pelonggaran kebijakan benar-benar diterjemahkan menjadi biaya pinjaman yang lebih rendah bagi pelaku usaha dan rumah tangga.
Bank-bank masih cenderung berhati-hati karena dua faktor: likuiditas yang ketat dan risiko kredit yang meningkat di segmen UMKM dan konsumsi.
Akibatnya, pertumbuhan kredit berjalan lebih lambat dari ekspektasi, terutama di sektor-sektor produktif.
Langkah Lanjutan: Insentif untuk Mendorong Kredit
Untuk mengatasi masalah transmisi, BI akan meluncurkan insentif makropolicy baru mulai 1 Desember 2025, yang memberikan reward bagi bank yang lebih cepat menurunkan suku bunga kredit.
Tujuannya sederhana: mendorong aliran likuiditas ke sektor produktif dan mempercepat pemulihan konsumsi domestik tanpa menimbulkan tekanan inflasi.
Kebijakan ini memperjelas arah baru BI dimana BI bukan sekadar menambah pelonggaran, tapi memastikan pelonggaran yang ada benar-benar efektif.
Dengan suku bunga acuan tetap di 4,75%, BI menjaga fleksibilitas untuk melanjutkan penurunan di 2026 apabila pertumbuhan kredit mulai meningkat dan tekanan eksternal mereda.
Untuk saat ini, prioritasnya adalah stabilitas nilai tukar dan efektivitas transmisi moneter, yang menjadi dua fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.