Old Giants Comeback? Saatnya Melirik Big Caps Lagi

media-image

Beberapa pekan terakhir, pasar saham global dan domestik sedang menghadapi “tarik ulur” antara optimisme pemangkasan suku bunga dan kekhawatiran perlambatan ekonomi. Dari sisi eksternal, Bank Sentral AS (The Fed) mulai memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter di semester II/2025, yang biasanya menjadi angin segar bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di domestik, kinerja ekonomi Indonesia tetap solid di tengah gejolak global, tetapi investor masih selektif menempatkan dana — terutama setelah IHSG sempat menyentuh all-time high di level 7.680 pada 29 Juli sebelum terkoreksi -2% ke kisaran 7.500. Sekilas kecil, tapi ini punya makna besar bagi strategi investasi kita.

AD_4nXeYcO4CT_Xo1POgNXQrh_uZuG-6E2ZkRinoMyPvjfHwXRC8In89WNxHIIcmHBvKkHfhaEFnoFI9dDqWjB-IIbdrHfznl4hOebCERI_ufpHxdzMD6qrJUkNI6HtS2Gi9YpTJocgH0Q?key=R00I3NA98Dk4PYJG2NqmlSB_
Apa yang Terjadi di Pasar?

Koreksi IHSG belakangan ini sebagian besar dipicu oleh turunnya beberapa saham konglomerasi besar (WoW as per (6/8)):
AMMN: -7,5%
BREN: -7,1%
BRPT: -2,3%

Mengapa ini signifikan? Karena ketiganya menyumbang sekitar 38% dari total market cap dan 37% dari rata-rata nilai transaksi harian IHSG. Artinya, pergerakan mereka sangat mempengaruhi indeks.
Sementara “raksasa” tadi terkoreksi, beberapa saham big caps lain justru bertahan atau malah menguat:
BMRI: +1,7%
BBNI: +0,2%
TLKM: +3,8%

Fenomena ini mengindikasikan bahwa di tengah koreksi pasar, ada segmen saham besar yang lebih resilien, dan ini membuka peluang menarik.

Here are Our 2 Cents !
1. Ekspektasi Rendah = Ruang Turun Terbatas
Kinerja kuartal II/2025 memang kurang menggembirakan (EPS 140), tapi pasar sudah mengantisipasinya. Proyeksi ke depan menunjukkan tren membaik: EPS Q3 diestimasi 146, Q4 di 150, dan 2026 melonjak ke 726 (vs 592 di 2025F).
2. Underowned oleh Investor Asing
 Porsi asing di IHSG kini hanya 46%, terendah sejak 2010 (64%). Sepanjang Jan–Jul 2025, empat bank besar mencatat outflow Rp 94 triliun, berbanding terbalik dengan inflow Rp 71 triliun di 2024. Kondisi ini sering menjadi bahan bakar untuk rebound ketika sentimen berbalik.

Kenapa Momentum Ini Layak Dilihat Investor
- Valuasi big caps sedang di salah satu level terendah 5 tahun terakhir, membuatnya menarik untuk akumulasi.
- Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund (SMSCI) saat ini berada di NAV 1.012 (setara Juni 2018), turun -19% dari puncaknya di Maret 2024.
- Dengan komposisi 50% pada saham perbankan besar, pemangkasan suku bunga berpotensi jadi katalis positif yang mendorong harga saham naik.

AD_4nXcMwudhl0qlDheyxnf5rbhWGGCEA80Wi4BL9RFor44LBt5S3KYDeivaz0O8cHWnbt4ZObI5LG9FdSgpyITO142vQQ887WfcoOYL4KanOgBdGjcX-AS63LbAMDPKfmJGSEMzmfV0ZA?key=R00I3NA98Dk4PYJG2NqmlSB_

Dalam kondisi pasar seperti sekarang, big caps menawarkan kombinasi valuasi menarik + potensi katalis makro. Bagi investor yang ingin menangkap peluang ini tanpa repot memilih saham satu per satu, reksa dana indeks seperti Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund bisa menjadi kendaraan yang tepat.