Menjelang tutup tahun, Indonesia kembali menampilkan kombinasi data ekonomi yang menarik: manufaktur semakin ekspansif, tapi kinerja ekspor melemah. Sekilas terlihat tidak sinkron, namun sebenarnya keduanya menceritakan cerita yang sama—bahwa ekonomi domestik terus kuat di tengah pelemahan global.
Bagi investor reksa dana, memahami dua sisi ini penting untuk menyusun strategi yang tepat di 2026.
1. PMI Indonesia Melonjak ke 53.3 — Terkuat Sejak Februari
Sinyal pertama datang dari sektor manufaktur.
Purchasing Managers’ Index (PMI) naik ke 53.3 di November, dari 51.2 pada Oktober. Ini adalah level tertinggi sejak Februari 2025.
Apa yang mendorong lonjakan ini?
- Permintaan & Output Naik Signifikan
* Pertumbuhan pesanan baru (new orders) tercatat tercepat sejak Agustus 2023
* Output pabrik meningkat
* Permintaan domestik menjadi motor utama
* Meskipun permintaan ekspor masih melemah, pasar dalam negeri tetap menyokong produksi
Kondisi ini cukup kontras dengan banyak negara yang PMI-nya justru stagnan atau kontraksi.
- Perusahaan Meningkatkan Aktivitas
* Input purchases bertambah
* Perekrutan karyawan meningkat
* Beban kerja yang menguat menciptakan backlog tersharp sejak 2021
Ini tanda bahwa optimisme bisnis mulai pulih.
- Tantangan: Supply Disruption & Biaya Naik
* Pengiriman input tertunda karena cuaca & gangguan logistik
* Biaya bahan baku dan tekanan kurs mendorong input-cost inflation tertinggi dalam 9 bulan
* Perusahaan merespons dengan menaikkan harga jual (factory-gate prices) ke level terkuat dalam lebih dari 1.5 tahun
2. Di Sisi Lain, Ekspor Melemah di Oktober 2025
Sementara manufaktur lokal menguat, angka ekspor justru melemah.
Ekspor Turun –2.31% YoY
Setelah September mencatat +11.41% YoY, Oktober berbalik turun.
Penyebab utama:
- CPO –1.13% YoY (normalisasi harga global)
- Batu bara –19.04% YoY (permintaan melemah + harga lebih rendah)
Ini menegaskan bahwa siklus komoditas sudah berada pada fase moderasi.
Tapi Produk Bernilai Tambah Tetap Kuat
Segmen manufaktur berteknologi lebih tinggi justru tetap tumbuh:
- Baja +14.58% YoY
- Electrical machinery +28.62% YoY
Artinya, diversifikasi ekspor Indonesia mulai membuahkan hasil.
Penurunan Bulanan Lebih Dalam
- Ekspor –1.79% MoM (lebih dalam dari –1.14% di September)
- Pelemahan terutama dari precious metals & baja
- Ekspor ke China turun –0.77% MoM seiring pelemahan PMI China
- Pengiriman ke Singapura anjlok 68.04% MoM (Singapura juga mencatat total impor dari Indonesia turun 25.67% MoM)
3. Apa Artinya untuk Investor Reksa Dana?
1. Prospek Reksa Dana Saham Tetap Positif untuk 2026
Kekuatan konsumsi domestik dan aktivitas manufaktur yang ekspansif menjadi fondasi earnings growth emiten non-komoditas.
Sektor-sektor seperti industrial, consumer, transport & logistics dapat mencatat momentum yang lebih baik.
2. Reksa Dana Pendapatan Tetap Mendapat Angin Segar
Tekanan biaya masih ada, tetapi jika pertumbuhan stabil dan ekspektasi rate cut global menguat, obligasi berpotensi menikmati penurunan yield lebih lanjut pada 2026.
3. Risiko Utama Tetap Datang dari Global
Permintaan China, harga komoditas, dan volatilitas pasar global masih bisa menahan kinerja jangka pendek — sehingga diversifikasi (campuran antara fixed income–equity–money market) tetap strategi paling sehat.
4. Momentum Investasi Domestik Layak Dimanfaatkan
Dengan PMI yang terus ekspansif dan pergeseran ekonomi ke manufaktur bernilai tambah, investor jangka menengah–panjang bisa mendapatkan titik masuk menarik melalui reksa dana saham dan campuran.