Same Players, Different Impact: What It Means for Indonesia's Financial Market?

media-image

Kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China kembali terjadi. Setelah sebelumnya sempat memanas dengan aksi saling menaikkan tarif, kini kedua negara sepakat untuk menurunkan tarif secara signifikan mulai 12 Mei 2025, berlaku selama 90 hari:

AD_4nXekvSTGtqCDCBbc1urbqMgHPbeei6N5RKs_WfRkXSV2jdkvX081hJuxjPUzYMxKjvdipYZnQnPW6Wdx_a1SpVPQjenTxrQXDCgzgh2p13uCuHAK3Sz2K0qWtaig1Tj0RALbzovg?key=R00I3NA98Dk4PYJG2NqmlSB_
- Tarif AS terhadap produk China turun dari 145% menjadi 30%
- Tarif China terhadap produk AS turun dari 125% menjadi 10%
Periode relaksasi ini membawa angin segar ke pasar global—termasuk Indonesia.

IHSG Leads the Rebound!
Sejak diumumkannya kesepakatan dagang terbaru (Trade Deals 2.0), IHSG mencatatkan penguatan +10,6%, jauh mengungguli indeks global seperti:
S&P 500: +4,7%
- Shanghai Composite: -0,2%

AD_4nXeOA01dAl4LrtrlIWlVrhBgUtdtCEMARDj6fLHWLVMYBrFmzhzxWeVsxpAxW_FFHygAAKPReZfJSWjMv-H17B0jXf-EazOBIdHm40DKCAnFlBF3Esl_8tWz-i2WaWLwXpyulyzevA?key=R00I3NA98Dk4PYJG2NqmlSB_

Ini mengindikasikan bahwa investor lokal mulai menunjukkan optimisme baru. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, respons pasar kali ini menunjukkan beberapa perbedaan signifikan. Apa aja ? Yuk kita simak sama sama!

Contrasting Bond Yield Trends
Pada Trade Deals 1.0, penurunan tarif terjadi di tengah tren suku bunga rendah global. Akibatnya, yield obligasi—termasuk di Indonesia—turun cukup tajam.

Namun di Trade Deals 2.0, justru muncul anomali:
- Yield obligasi Indonesia (ID10Y) menurun tipis
- Yield obligasi AS (US10Y) malah naik cukup tajam

Kenaikan US10Y ini disebabkan oleh penurunan kepercayaan investor terhadap obligasi AS, apalagi setelah lembaga pemeringkat menurunkan rating kredit AS karena tingginya risiko fiskal.

IDR-CNY Positive Correlation
Sejak 2018, pergerakan Yuan (CNY) dan Rupiah (IDR) cenderung berkorelasi positif. Hal ini kembali terlihat di momen Trade Deals 2.0, di mana keduanya menguat sekitar +2%–3% terhadap USD.

Meningkatnya kepercayaan terhadap China turut membawa sentimen positif ke mata uang regional—termasuk Indonesia. Artinya, apresiasi CNY bisa menjadi katalis positif bagi stabilitas Rupiah.

A Comeback for Foreign Inflows
Pasca Trade Deals I, Indonesia tidak sempat menikmati euforia penuh karena segera dihantam pandemi COVID-19. Namun kini, setelah Trade Deals II diumumkan, mulai terlihat kembalinya aliran dana asing:
- Inflow asing ke IHSG mencapai Rp 4,1 triliun (per 27 Mei 2025)
- Obligasi pemerintah juga mencatat inflow, meski partisipasi asing tidak sebesar sebelumnya

Meski skalanya belum sebesar periode 2019, arah aliran dana menunjukkan kepercayaan yang mulai pulih terhadap pasar domestik.

Equity Jadi Lebih Menarik
Satu hal yang konsisten dari kedua momen Trade Deals adalah bahwa valuasi IHSG sempat turun, sehingga Earnings Yield (EY) menjadi lebih tinggi dari ID10Y. Spread ini mencapai sekitar 100 basis poin.
Secara sederhana, ini berarti saham saat ini terlihat lebih atraktif dibandingkan obligasi.

Time for Thoughtful Diversification!
Meski tensi dagang mulai mereda, ketidakpastian global masih cukup tinggi—dari sisi geopolitik hingga risiko fiskal negara maju. Dalam kondisi seperti ini, investor perlu strategi yang mampu mengelola risiko sekaligus memanfaatkan peluang.

Dua produk Syailendra yang bisa dipertimbangkan:
1. Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund (SMSCI)
Reksa dana indeks yang mengikuti indeks MSCI Indonesia Value. Fokus pada saham-saham undervalued dan rajin membagikan dividen.

2. Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF)
Reksa dana pendapatan tetap syariah yang berinvestasi pada sukuk korporasi (rating min A) berdurasi pendek dan obligasi pemerintah.
Punya fleksibilitas alokasi maksimum hingga 20% di tiap instrumen terbaik, memberikan potensi return yang lebih optimal.

Kesimpulan: Pemainnya Sama, Tapi Dampaknya Berbeda
Momen Trade Deals kali ini tidak serta-merta menimbulkan reaksi yang sama seperti tahun 2020. Investor kini lebih hati-hati, lebih selektif, dan lebih memperhatikan kualitas aset.

Indonesia mendapat manfaat dari stabilitas regional dan apresiasi mata uang Asia, tapi tantangan global tetap harus diwaspadai. Diversifikasi—baik ke saham bernilai maupun ke pendapatan tetap syariah—menjadi salah satu cara cerdas untuk tetap tumbuh dalam ketidakpastian.

In a world of shifting risks, the right combination of diversification and conviction is the best way forward.