Ada satu hal yang sering kita lupakan saat bicara soal investasi: bahwa setiap pasar memiliki "DNA"-nya sendiri.
Dari 2019 hingga 2024, dunia menghadapi gejolak luar biasa—pandemi global, kenaikan suku bunga agresif, hingga tensi geopolitik. Di tengah badai itu, pasar saham tetap bergerak. Namun, bukan hanya arah yang berbeda-beda, tapi struktur penggeraknya juga tak selalu sama.
Nah, apa yang bisa kita pelajari dari perbedaan struktur pasar ini, dan kenapa penting untuk strategi reksa dana kita ke depan?
1. IHSG: Tumbuh, Tapi Valuasinya Turun
Meskipun IHSG mencatatkan EPS Growth sebesar 7.4% dan dividend yield 3.1%, valuasinya justru mengalami de-rating. Artinya, pasar kurang memberi “harga premium” terhadap pertumbuhan tersebut.
Tapi justru ini jadi peluang. Kalau earnings terus tumbuh dan ekonomi membaik, valuasi bisa kembali naik — atau yang sering disebut re-rating. Dan reksa dana saham aktif bisa mengambil momentum ini lebih awal.
2. EPS Growth > GDP Growth
Rata-rata pertumbuhan laba emiten Indonesia ternyata lebih tinggi daripada pertumbuhan PDB, yaitu 7.4% vs 4.8%. Ini menunjukkan bahwa masih ada banyak perusahaan berkinerja baik di tengah ekonomi yang menantang.
Artinya? Reksa dana yang jeli memilih emiten dengan profitabilitas tinggi akan tetap bisa mencetak return menarik meski ekonomi belum sepenuhnya pulih.
3. Dividen: Bisa Jadi Hero di Portofolio
Dividen sering dianggap “bonus kecil”, padahal kenyataannya, kontribusinya bisa mencapai 30% dari total return dalam jangka panjang.
Untuk investor reksa dana, ini jadi pengingat penting: konsistensi dividen adalah strategi defensif yang sangat underrated. Produk seperti reksa dana saham yang fokus pada dividend play bisa jadi penyeimbang dalam portofolio.
4. Pelajaran dari Malaysia: Tidak Semua Pasar Diciptakan Sama
Malaysia mencatat total return serupa Indonesia (10.4%) — tapi komposisinya sangat berbeda. Kontribusi utama datang dari dividend yield (6.1%), bukan dari EPS growth.
Ini mengajarkan kita untuk tidak melihat return dalam angka semata, tapi juga memahami struktur penggeraknya.
5. India: Bukti Bahwa Growth Diapresiasi
India menunjukkan kekuatan penuh: EPS growth hampir 15% dan valuasinya tetap dihargai investor. Tidak ada de-rating signifikan.
Pelajaran pentingnya: pasar menghargai pertumbuhan yang kuat dan konsisten.
So What? Relevansi untuk Reksa Dana
Melihat struktur return dari berbagai negara, kita bisa simpulkan bahwa strategi yang tepat tidak hanya soal memilih pasar yang “naik”, tapi juga memahami apa yang menggerakkannya.
Untuk investor reksa dana, ini menjadi alasan kuat mengapa produk aktif — seperti reksa dana saham aktif atau campuran — punya keunggulan di era seperti sekarang. Mereka bisa lebih fleksibel menyaring emiten berkinerja baik, memanfaatkan dividen, dan menavigasi pasar yang kompleks.
Dan ingat: Different market, different structure. But with the right strategy, you don’t just ride the market, you lead it.