The Fed Cuts 25 bps Again. What’s Next for December?

The Federal Reserve kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada FOMC 29–30 Oktober, membawa Fed Funds Rate (FFR) ke 3,75%–4,00%.
Keputusan ini sudah sesuai ekspektasi pasar dan didorong oleh tanda-tanda perlambatan pasar tenaga kerja di AS.

Namun, setelah dua kali pemangkasan berturut-turut sejak September, arah kebijakan menjelang FOMC Desember masih belum sepenuhnya jelas. Berikut tiga hal penting yang perlu dicermati.

1. December Cut? Still a BIG question
Meski The Fed mulai melonggarkan kebijakan, peluang pemangkasan di Desember belum pasti.
Salah satu alasannya adalah minimnya data ekonomi akibat shutdown yang berkepanjangan, membuat Fed kehilangan pijakan statistik untuk menilai kondisi ekonomi secara komprehensif.
- Probabilitas rate cut Desember turun dari 90% ->71%.
- The Fed tampaknya ingin menunggu rilis data yang lebih konsisten sebelum melanjutkan easing.

2. Tariff effect is still in play
Kebijakan tarif resiprokal administrasi Trump masih menjadi variabel penting.
Biaya impor yang meningkat dapat mendorong inflasi AS naik kembali, sekaligus menekan pertumbuhan melalui kenaikan harga barang konsumsi dan input produksi.

Jika tekanan biaya ini menguat, The Fed bisa menjadi lebih hati-hati dalam melanjutkan pemangkasan suku bunga.

3. No more quantitative tightening
The Fed mengumumkan akan menghentikan Quantitative Tightening (QT) mulai 1 Desember.
Obligasi pemerintah yang jatuh tempo akan di-rollover, bukan lagi dibiarkan turun dari neraca (balance sheet runoff).
Tujuannya jelas:
- Menjaga likuiditas pasar uang,
- Mencegah tekanan suplai obligasi, dan
- Menstabilkan kondisi pembiayaan jangka pendek.

Reaksi Pasar: Yields Bergerak Naik, Dolar Menguat
Setelah pidato Powell, pasar kembali bergejolak:
- US10Y naik dari 3,97% -> 4,07%,
- DXY kembali menuju level 100.

Bagi Indonesia, efek ini muncul dalam bentuk:
- ID10Y yang kembali di sekitar 6,0%,
- Rupiah melemah ke IDR 16.566/USD.

Respons tersebut wajar mengingat pergeseran ekspektasi kebijakan Fed sering berdampak langsung pada arus modal dan sentimen emerging markets.

Kesimpulan
Pemangkasan suku bunga Fed membawa sinyal pelonggaran, tetapi jalurnya tidak linear.
Dengan data ekonomi yang tidak lengkap, tekanan inflasi dari tarif, dan perubahan arah kebijakan neraca, keputusan Fed di Desember tetap bergantung pada dinamika pasar yang cepat berubah.

Bagi Indonesia, pergerakan Fed tetap menjadi salah satu variabel eksternal utama — terutama untuk stabilitas Rupiah, arah imbal hasil obligasi, dan arus modal asing.