Bank Sentral Tidak Membeli Emas Tanpa Alasan

media-image

Di tengah harga yang terus bergerak naik, bank sentral global tetap menjadi salah satu pembeli emas terbesar.

Pembelian mereka sempat melampaui 1.000 ton per tahun pada 2022–2024. Meski turun menjadi 863 ton pada 2025, akumulasi berlanjut dengan pembelian sekitar 244 ton pada kuartal pertama 2026.

Skalanya cukup signifikan. Permintaan dari bank sentral kini menyumbang sekitar 20,4% dari total permintaan emas global, tidak terlalu jauh dari permintaan perhiasan yang berada di sekitar 25%.

Artinya, pergerakan emas tidak lagi hanya dipengaruhi oleh konsumen dan investor. Emas juga semakin diperlakukan sebagai aset strategis dalam pengelolaan cadangan negara.

Mengapa Bank Sentral Terus Membeli?

Bagi bank sentral, emas bukan aset untuk mengejar keuntungan jangka pendek. Perannya lebih dekat dengan perlindungan terhadap risiko yang sulit diprediksi.

Beberapa pertimbangannya meliputi:
- Inflasi dan penurunan daya beli mata uang
Emas dapat membantu menjaga nilai cadangan ketika inflasi meningkat atau kepercayaan terhadap mata uang melemah.
- Ketidakpastian geopolitik
Emas tidak bergantung langsung pada kemampuan bayar suatu negara atau institusi tertentu.
- Diversifikasi cadangan devisa
Penambahan emas dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang, terutama dolar AS.
- Pengelolaan cadangan jangka panjang
Emas memiliki pasar global yang luas dan telah digunakan sebagai penyimpan nilai lintas generasi.

Amerika Serikat masih memiliki cadangan emas terbesar di dunia dengan sekitar 8.134 ton, diikuti oleh negara-negara seperti Jerman, Italia, Prancis, Rusia, dan China.

Namun, cerita yang lebih penting bukan hanya siapa yang memiliki emas paling banyak. Arahnya juga perlu diperhatikan.

Survei World Gold Council menunjukkan 89% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 45% memperkirakan institusi mereka sendiri akan membeli lebih banyak emas, sementara 84% menilai porsi emas dalam cadangan global akan terus bertambah.

Bagi investor, akumulasi tersebut bukan berarti harga emas pasti selalu naik. Emas tetap dapat terkoreksi akibat perubahan suku bunga, pergerakan dolar AS, dan sentimen pasar.

Namun, pembelian bank sentral memberi sinyal bahwa emas masih memiliki fungsi strategis ketika risiko inflasi, geopolitik, dan mata uang meningkat.

Jika negara menempatkan emas sebagai bagian penting dari cadangan jangka panjangnya, pertanyaan berikutnya menjadi relevan bagi investor.

Peran apa yang seharusnya dimainkan emas dalam portofolio Anda?

Sumber: World Gold Council dan Bloomberg, diolah oleh Syailendra Research.