Geopolitics Is Back in the Driver’s Seat

media-image

Pasar minyak kembali memasuki fase yang sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat Brent crude mulai mencerminkan premi risiko geopolitik, dengan investor global memperhitungkan potensi gangguan pasokan dari salah satu produsen minyak terbesar di Timur Tengah.

Iran saat ini memproduksi sekitar 3.5 juta barel per hari (mbpd), atau sekitar 3% dari total pasokan minyak global. Sebagian besar ekspornya — sekitar 80–90% — dikirim ke China. Karena itu, gangguan terhadap ekspor Iran tidak hanya berdampak pada pasokan global, tetapi juga berpotensi mengubah pola perdagangan minyak dunia.

Why Iran Matters to the Oil Market
Jika ekspor Iran terganggu, China kemungkinan harus mengalihkan sumber pasokan minyaknya ke pasar lain.

Hal ini akan meningkatkan permintaan terhadap seaborne crude supply, yang pada akhirnya dapat mendorong harga minyak global.

Beberapa skenario risiko yang dipantau oleh pasar antara lain:
1. Disruption at Kharg Island
Kharg Island merupakan terminal ekspor minyak utama Iran. Serangan atau gangguan pada fasilitas ini dapat menghambat arus ekspor minyak secara signifikan.
2. Domestic Instability
Ketidakstabilan politik atau kerusuhan domestik juga berpotensi mengganggu produksi dan distribusi minyak.

Namun demikian, skenario ekstrem seperti penutupan Selat Hormuz masih dipandang sebagai risiko yang sangat kecil.

Selain dampaknya yang luas terhadap perdagangan global, langkah tersebut juga dapat memicu respons regional yang signifikan.

Structural Drivers Are Also Emerging
Di luar faktor geopolitik, terdapat beberapa faktor struktural yang mulai memperkuat outlook harga minyak.

China Demand Acceleration
China mulai meningkatkan aktivitas inventory building, yang berpotensi mempercepat pemulihan permintaan minyak.

US Shale Growth Slowing Earlier
Pertumbuhan produksi shale oil di Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda perlambatan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Large US Stockpile Drawdowns
Penurunan besar pada cadangan minyak AS juga menambah tekanan pada sisi pasokan global.

Kombinasi faktor-faktor ini membuat momentum bagi sektor minyak dan gas muncul lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan.

Jika sebelumnya peluang entry sektor diperkirakan pada 2Q–3Q 2026, kini jendela tersebut berpotensi maju ke 1H 2026.

What It Means for the Oil & Gas Sector
Dengan meningkatnya premi risiko geopolitik dan faktor fundamental yang mulai mendukung, sektor minyak dan gas kini kembali menjadi sorotan.

Namun volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar minyak saat ini.

Dalam jangka pendek:
- Eskalasi ketegangan Iran dapat memicu lonjakan harga minyak
- Sebaliknya, jika risiko geopolitik mereda dan tidak terjadi gangguan fisik pada ekspor Iran, harga minyak masih berpotensi turun sekitar US$5 per barel

Karena itu, pendekatan investasi di sektor ini perlu tetap taktis dan disiplin terhadap dinamika risiko global.

Pasar minyak saat ini berada di persimpangan antara geopolitik dan fundamental energi global.

Gangguan pasokan yang relatif kecil sekalipun dapat berdampak besar terhadap harga, terutama ketika pasar sudah sensitif terhadap risiko geopolitik.

Dengan meningkatnya ketegangan global dan perubahan dinamika pasokan energi, sektor minyak dan gas kemungkinan akan tetap menjadi salah satu sektor yang paling responsif terhadap perkembangan global dalam beberapa waktu ke depan.