Mengapa Emas Tetap Relevan di Berbagai Siklus Pasar ?

media-image

Emas tidak selalu menjadi aset dengan kinerja terbaik setiap tahun. Namun, dalam berbagai siklus pasar, emas berulang kali membuktikan perannya sebagai salah satu aset yang tetap relevan.

Dalam 15 tahun terakhir, harga emas tumbuh rata-rata sekitar 10% per tahun. Kinerjanya juga relatif konsisten dibandingkan berbagai kelas aset lain, mulai dari saham, obligasi, pasar uang, hingga dolar AS.

Tentu, perjalanan emas tidak selalu mulus. Pada 2013, harga emas turun sekitar 28% akibat penguatan dolar AS, pemulihan ekonomi Amerika Serikat, serta rencana pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed.

Sebaliknya, pada 2025 emas mencatat kenaikan sekitar 64,4%, didorong oleh ketegangan geopolitik global, ekspektasi penurunan suku bunga, dan meningkatnya kekhawatiran terhadap utang pemerintah.

Ketika Krisis Datang

Daya tarik emas semakin terlihat ketika pasar menghadapi tekanan besar.

Selama periode Krisis Finansial Global 2008, emas membukukan kenaikan sekitar 72,14% dalam tiga tahun. Pada periode yang sama, IHSG naik sekitar 40,37%, tetapi sempat mengalami koreksi yang jauh lebih dalam.

Pola serupa kembali terlihat saat pandemi Covid-19. Dalam periode dua tahun hingga Desember 2020, emas tumbuh sekitar 48,4%, sementara IHSG masih mencatatkan penurunan sekitar 3,48%.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa emas tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi. Ketika ketidakpastian meningkat dan aset berisiko tertekan, emas dapat berfungsi sebagai hedge sekaligus penyeimbang dalam portofolio.

Bukan karena Selalu Naik

Emas tetap memiliki risiko dan harganya dapat bergerak turun. Karena itu, alasan memiliki emas bukan karena aset ini selalu menghasilkan return tertinggi.

Perannya justru muncul dari karakter pergerakannya yang berbeda dibandingkan saham atau obligasi. Ketika satu kelas aset melemah, emas dapat membantu mengurangi tekanan terhadap keseluruhan portofolio.

Inilah yang membuat investasi emas tetap relevan dalam berbagai kondisi pasar. Bukan hanya ketika krisis telah terjadi, tetapi sebelum perlindungan tersebut benar-benar dibutuhkan.

The best time to own gold? Before you need it.

Lalu, apa cara yang lebih cerdas untuk memiliki emas?

Sumber: Bloomberg, diolah oleh Syailendra Research.