Emas memiliki satu karakter yang sulit ditemukan pada banyak aset lain. Permintaannya terus bertahan, sementara pasokannya tidak mudah ditambah.
Hingga akhir 2024, total emas yang pernah ditambang sepanjang sejarah diperkirakan mencapai 216.265 ton. Jika seluruhnya dikumpulkan, volumenya secara ilustratif hanya setara dengan sekitar empat kolam renang berukuran Olimpiade.
Jumlah tersebut terlihat besar. Namun, permintaan emas global pada 2025 telah melampaui 5.000 ton. Secara sederhana, seluruh stok emas yang pernah ditambang hanya setara dengan sekitar 42 tahun kebutuhan global apabila tidak ada produksi baru maupun daur ulang.
Kelangkaan ini dapat dilihat melalui stock-to-flow ratio, yaitu perbandingan antara total stok yang tersedia dan produksi baru setiap tahun.
Emas memiliki rasio sekitar 60, dibandingkan perak sekitar 22 dan platinum sekitar 1. Artinya, dibutuhkan produksi puluhan tahun untuk menyamai jumlah emas yang sudah berada di atas permukaan.
Pasokan Baru Sulit Mengejar
Masalahnya, produksi tambang tidak dapat meningkat dengan cepat hanya karena permintaan atau harga naik.
Pengembangan tambang baru membutuhkan eksplorasi, modal besar, perizinan, dan waktu yang panjang. Dalam satu dekade terakhir, produksi emas hanya tumbuh kurang dari 1% per tahun.
Sementara itu, selisih antara permintaan dan produksi terus melebar. Pada 2021, gap tersebut mencapai sekitar 460 ton. Pada 2025, angkanya meningkat menjadi sekitar 1.330 ton.
Kekurangan pasokan ini tidak sepenuhnya ditutup oleh produksi baru, melainkan melalui daur ulang perhiasan dan emas lama. Dengan kata lain, pasar semakin bergantung pada stok emas yang sudah tersedia.
Kondisi tersebut tidak berarti harga emas akan selalu naik. Dalam jangka pendek, emas tetap dipengaruhi oleh suku bunga, dolar AS, dan perubahan sentimen investor.
Namun, keterbatasan pasokan memberi emas fondasi yang berbeda. Ketika produksi sulit mengejar permintaan, kelangkaan menjadi bagian dari nilai jangka panjangnya.
Itulah sebabnya emas terus diakumulasi oleh bank sentral, institusi, dan investor di berbagai negara.
Pertanyaannya, apakah portofolio Anda sudah memiliki eksposur terhadap aset dengan pasokan yang semakin sulit bertambah?
Sumber: World Gold Council, Metals Focus, Wessex Mint, dan Business Standard.